Pages

Jumat, 09 November 2012

Makalah Psikologi Pendidikan

BAB  I
PENDAHULUAN

Lembaga pendidikan pada umukmnya merupakan tumpuan para orang tua, siswa dan warga masayarakat guna memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap dan sifat – sifat  kepribadian utama, sebagai  sarana pengembangan karier, peningkatan status sosial dan bekal hidup lainnya di dunia kini dan di akhirat nanti.
Oleh karena itu lembaga pemdidikan mencoba mengkombinasikan aspirasi dan pandangan – pandangan masyarakat tersebut  ke dalam tujuan – tujuan kurikuler dan instistusional, yang pada akhirnya semua aspirasi itu terletak pada guru, karena merekalah yang diberi tugas, wewenang dan tanggung jawab  pelaksanaan operasional pendidikan dan pengajara tersebut.
Meskipun para guru telah berusaha mengoptimalkan segala kompetensinya, namun tatkala melaksanakan evaluasi ternyata siswa yamendefinisikan layanan bimbingan ng mengulang atau putus sekolah ternyata masih cukup tinggi, sehingga banyak membawa konsekwensi psikologis. Sudah barang trentu hasil seperti itu tidak diharapkan terjadi dan dapat mengecewakan berbagai pihak.
Sekolah sdebagai lembaga pendidikan formal ternyata diminta melakukan kegiatan lain yaitu layanan bimbingan ( guidance services ).








BAB II
PRINSIP DASAR BIMBINGAN  BELAJAR

1.             Pengertian Bimbingan Belajar
Menurut A J Jones, bimbingan belajar merupakan suatu proses pemberian bantuan seseorang pada orang lain dalam menentukan pilihan dan pemecahan masalah dalam kehidupannya.
Menurut L D Crow dan A Crow, bimbingan belajar merupakan suatu bantuan yang dapat diberikan oleh seseorang yang telah terdidik pada orang lain yang mana usianya tidak ditentukan untuk dapat menjalani kegiatan dalam hidupnya.
Jadi, bimbingan belajar adalah suatu bentuk kegiatan dalam proses belajar yang dilakukan oleh seseorang yang telah memiliki kemampuan lebih dalam banyak hal untuk diberikan kepada orang lain yang mana bertujuan agar orang lain dapat menemukan pengetahuan baru yang belum dimilikinya serta dapat diterapkan dalam kehidupannya.
2.     Latar Belakang Bimbingan Belajar
Suatu kegiatan yang dilaksanakan sudah pasti memiliki latar belakang. Demikian pula halnya dengan layanan bimbingan belajar. Kegiatan bimbingan belajar dilaksanakan karena dilatar belakangi oleh beberapa hal, sebagai berikut:
1)      Adanya criterion referenced evaluation (CRE) yang mana mengklasifikasikan siswa berdasarkan keberhasilan mereka dalam menguasai pelajaran.  Kualifikasi itu, antara lain :
Ø  Siswa yang benar-benar dapat meguasai pelajaran, ditunjukkan nilai prestasi tinggi, (qualified students).
Ø  Siswa yang cukup menguasai pelajaran ditunjukkan oleh angka prestasi yang sedang atau sekedar batas lulus (relatively qualified studets)
Ø  Siswa yang belum dapat menguasai pelajaran, ditunjukkan oleh nilai prestasinya berada dibawah ukuran batas lulus (unqualified students).

2)      Adanya kapasitas (kemampuan/tingkat kecerdasan dan bakat) yang dimiliki oleh tiap siswa yang berbeda dengan siswa yang lainnya. Terdapat  klasifikasi siswa berdasarkan kapasitas tersebut antara lain :
Ø  Siswa yang prestasinya lebih tinggi dari apa yang diperkirakan berdasarkan hasil tes kemampuan belajarnya. (siawa sukses).
Ø  Siswa yang prestasiya memang sesuai dengan apa yang diperkirakan berdasarkan tes kemampuan belajarnya. (siswa wajar ).
Ø  Siswa yang prestasinya ternyata lebih rendah dari apa yang diperkirakan berdasarkan hasil tes kemampuan belajarnya. (siswa gagal).

3)      Adanya penerapan waktu untuk menyelesaikan suatu program belajar. Dan klasifikasi siswa dalam hal ini antara lain :
Ø  Siswa yang ternyata dapat menyelesaikan pelajaran lebih cepat dari waktu yang disesuaikan. (siswa cepat )
Ø  Siswa yang dapat menyelesaikan pelajaran sesuai waktu yang telah disesuaikan. (siswa normal )
Ø  Siswa yang ternyata tidak dapat menyelesaikan pelajaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. (siswa lambat ).

4)      Adanya penggunaan norm referenced (PAN) yang mana membandingkan prestasi siswa yang satu dengan yang lainnya. Dan klasifikasi siswa berdasarkan perstasinya itu antara lain :
Ø  Siswa yang prestasi belajarnya selalu berada di atas nilai rata-rata prestasi kelompoknya. (higher group)
Ø  Siswa yang prestasi belajarnya selalu berada di sekitar nilai rata-rata dari kelompoknya. (average group)
Ø  Siswa yang prestasinya selalu berada di bawah nilai rata-rata prestasi kelompoknya. (lower group).

Setelah mengetahui begitu banyak permasalahan yang dihadapi oleh setiap siswa dalam kegiatan belajarnya, maka diperlukanlah suatu bentuk layanan bimbingan belajar. Hal ini dimaksudkan agar para siswa yang memiliki permasalahan dalam belajarnya dapat segera memperoleh bantuan atau bimbingan dalam kegiatan belajar yang diperlukannya. Jadi, layanan bimbingan belajar sangat diperlukan oleh semua orang yang sedang melakukan proses atau kegiatan belajar.
3.       Jenis Layanan Bimbingan Belajar dalam Kaitannya dengan PBM
Seorang guru dalam memberikan layanan bimbingan belajar harus tetap berporos pada terselenggaranya Proses Belajar Mengajar. Oleh karena itu, diperlukanlah suatu jenis layanan bimbingan belajar yang berkaitan dengan Proses Belajar Mengajar. Maka jenis layanan bimbingan belajar dalam konteks Proses Belajar Mengajar yang dapat dan seyogyanya dijalankan oleh para guru, antara lain :
a)        Mengumpulkan informasi mengenai diri siswa, inventory services.
b)       Memberikan informasi mengenai berbagai kemungkinan jenis program dan kegiatan yang sesuai dengan karakteristik siswa, information services.
c)        Menempatkan siswa dengan kelompok belajar atau memberikan program belajar yang sesuai , placement services.
d)       Mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, counseling services.
e)        Membuat rekomendasi tentang kemungkinan usaha selanjutnya, refferal.
f)         Melakukan remedial teaching.

4. Prosedur dan Strategi Layanan Bimbingan Belajar
a. Prosedur Umum Layanan Bimbingan Belajar
Suatu layanan bimbingan belajar, pada umumnya memiliki beberapa tahap dalam kegiatannya, antara lain :
1) Identifikasi Kasus
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi siswa yang memerlukan bimbingan. Ada kalanya siswa datang langsung pada guru pembimbing untuk diberi bimbingan mengenai suatu permasalahan dalam belajar yang sedang dihadapinya. Namun, ada kalanya pula, siswa enggan untuk mendatangi guru pembimbingnya dikarenakan beberapa alasan. Maka, diperlukan suatu upaya lebih dari guru pembimbing untuk dapat memberikan bimbingan pada siswa yang benar-benar membutuhkan bimbingan, namun enggan untuk meminta bimbingan. Dan cara yang dapat dilakukan oleh guru pembimbing dalam memberikan bimbingan motivasi kepada siswa tersebut, antara lain :
(a) Call them approach
Langkah untuk memanggil setiap siswa yang ada dan melakukan wawancara face to face, maka akan diperoleh siswa yang perlu dibimbing.
(b) Maintan good relations
Langkah ini dikenal juga sebagai open door policy, yang mana diciptakan berbagai cara tidak langsung untuk memperkenalkan berbagai jenis layanan yang akan diberikan guru pembimbing untuk membantu siswanya yang tidak hanya terbatas pada hubungan belajar-mengajar di kelas saja.
(c) Developing a desire for conseling
Langkah ini dilakukan jika siswa tidak menyadari akan masalah belajar yang dialaminya, maka dilakukanlah cara:
(1)  mengadiministrasikan tes inteligensi, bakat, minat, pretest atau post test dan sebagainya.
(2)  mengadakan orientasi studi yang membicarakan dan memperkenalkan karakteristik perbedaan individual serta implikasinya bagi cara belajar-mengajar.
(3)   mengadakan diskusi tentang suatu masalah tentang kesulitan belajar.
(d) Lakukan analisis terhadap prestasi belajar siswa mengenai beberapa siswa yang menunjukkan kelainan-kelainan tertentu.
(e) Lakukan analisis sosiometris dengan memilih teman terdekat di antara sesama siswa.
2) Identifikasi Masalah
Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi permasahan yang dihadapi oleh setiap siswa. Dalam konteks PBM, permasalahannya dapat dialokalisasi dan dibatasi dengan ditinjau dari tujuan proses belajar-mengajar:
(a)  Secara substansial-material, hendaknya dialokalisasi pada jenis bidang   studi mana saja.
(b)    Secara struktural-fungsional, permasalahan itu mungkin dapat dialokasikan pada salah satu jenis dan tingkat kategori belajar .
(c)   Secara behavioral, permasalahan mungkin terletak pada salah satu jenis dan tingkat perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor.
(d)   Mungkin terletak pada salah satu atau beberapa aspek kepribadian siswa.
3) Diagnosis
Dalam konteks PBM, kemungkinan faktor penyebab permasalahan yaitu terletak pada :
(a) raw input
(b) instrumental input
(c) enviromental input
(d) tujuan pendidikan

Cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh informasi yang relevan dengan kemungkinan faktor penyebab permasalahan di atas, antara lain:
(a) Untuk mendeteksi raw input, perlu diadakan tes psikologi, skala penilaian sikap, wawancara bimbingan dengan yang bersangkutan, inventory, dan sebagainya.
(b) Untuk mendeteksi instrumental input, perlu dilakukan review terhadap komponen-komponen sistem instruksional yang bersangkutan dengan diadakan wawancara dan studi dokumeneter.
(c) Untuk mendeteksi enviromental input, perlu dilakukan observasi dengan analisis anecdotal records, kunjungan rumah, wawancara dengan yang bersangkutan.
(d) Untuk mendeteksi tujuan-tujuan pendidikan, perlu dilakukan analisis rasional, wawancara, dan studi dokumenter.
4) Mengadakan Prognosis
  Langkah ini dilakukan setelah beberapa langkah sebelumnya telah dilakukan, dan memberikan hasil. Selanjutnya, dapat diperkirakan tentang cara mana yang mungkin dilakukan. Proses pengambilan keputusan pada tahap ini seyogianya tidak dilakukan secara tergesa-gesa, dan sebaiknya melalui serangkaian konferensi kasus.
5) Melakukan Tindakan Remedial atau Membuat Referral (Rujukan)
  Jika jenis permasalahan yang dihadapi berhubungan dengan lingkungan belajar-mengajar dan guru masih sanggup mengatasi, maka perlu dilakukan tindakan remedial. Namun, jika permasalahannya sudah menyangkut aspek lain yang lebih luas lagi, maka seorang guru perlu segera melakukan referral pada ahli yang kompeten di bidangnya.
6) Evaluasi dan Follow Up
Langkah apapun yang telah ditempuh oleh seorang guru, langkah evaluasi atas usaha pemecahan masalah tersebut seyogianya dilakukan.
b. Strategi Layanan Bimbingan Belajar
Ada dua cara pendekatan dalam menggariskan strategi layanan bimbingan, yaitu
1.    Berdasarkan jenis dan sifat kasus yang dihadapinya
Sesuai dengan sifat permasalahannya, layanan bimbingan dapat diberikan kepada siswa sebagai individual dan dapat pula diberikan kepada individu dalam kelompok.
a).  Layanan bimbingan kelompok, diselenggarakan bila :
(1) Terdapat sejumlah individu yang mempunyai permasalahan yang sama.
(2) Terdapat masalah yang dialami oleh individu, namun perlu adanya hubungan dengan orang lain.
Layanan bimbingan ini dapat dilakukan dengan cara:
(1)  Formal, seperti : diskusi, ceramah, remedial teaching, sosiodrama, dan sebagainya.
(2)  Informal, seperti : rekreasi, karyawisata, student self government, pesta olah raga, pentas seni, dan sebagainya.
b).  Layanan bimbingan individual
Layanan ini dapat digunakan jika permasalahan yang dihadapi individu itu lebih bersifat pribadi dan memerlukan beberapa proses yang mana dapat dilakukan oleh guru atau ahli psikolog. Mungkin juga orangtua yang bersangkutan yang akan melakukannya.

2. Berdasarkan Ruang Lingkup Permasalahan dan Pengorganisasiannya
Mathewson mengidentifikasi tiga strategi umum penyelenggaraan layanan bimbingan, sebagai berikut :
a) The strategy guidence thoughout the classroom
Dalam strategi bimbingan melalui kelas ini, ada slogan yang berbunyi “Every teacher is a guidance worker”, yang artinya bahwa setiap guru adalah petugas bimbingan. Slogan ini menjiwai seluruh pemikiran dan praktik layanan sehingga bimbingan dapat selalu terlaksana.

b) The strategy of guidance throughout supplementary services
Dalam strategi bimbingan melalui layanan khusus yang bersifat suplementer ini dapat dilakukan oleh petugas khusus yang ditujukan guna mengatasi masalah pokok secara terpilih. Strategi ini merupakan pola layanan bimbingan pendidikan dan vokasional.
c) The strategy of guidance as a comprehensive process trhoughtout the whole   curriculum and community
Dalam strategi bimbingan sebagai suatu proses yang komprehensif melalui kegiatan keseluruhan kurikulum dan masyarakat inimelibatkan semua komponen personalia sekolah, siswa, orangtua, dan wakil-wakil masyarakat. Strategi ini memerlukan fasilitas yang lebih lengkap dan menuntut terciptanya suatu kerja sama yang harmonis di antara semua komponen yang terlibat.
5. Sistem dan Teknik Layanan Bimbingan
a. Beberapa Sistem Pendekatan Layanan Bimbingan
Dalam buku berjudul Counseling and Psychotherapy, Rogers mengemukakan dua pendekatan layanan bimbingan, yaitu:
1) Pendekatan Direktif
adalah suatu proses pendekatan yang mana yang menjadi pusatnya yaitu konselor, bukan klien.
Dalam pendekatan ini, Wiliamson mengemukakan beberapa alasan dilakukannya pendekatan ini, antara lain:
Ø   Anak yang belum matang mendiagnosis sendiri, sukar memecahkan masalah yang dihadapinya tanpa bantuan pihak lain.
Ø   Anak yang berkesulitan, walaupun telah diberi arahan untuk melakukan sesuatu agar dapat mengatasi masalahnya, tetap saja tidak berani melakukannya.
Ø   Mungkin ada masalah yang berat untuk dipecahkan oleh anak tanpa bantuan orang lain.
2)   Pendekatan Non-Direktif
adalah suatu proses pendekatan yang mana yang menjadi pusatnya yaitu klien, bukan konselor.
Dalam pendekatan ini, Cart Rogers mengemukakan beberapa alasan dilakukannya pendekatan ini, antara lain:
Ø   Tiap individu mempunyai kemampuan yang besar untuk menyesuaikan diri serta mempunyai dorongan yang kuat untuk berdiri sendiri.
Ø   Pembimbing hanya sebagai pengantar dan membantu klien dalam menciptakan suasana damai.
3)   Pendekatan Eclective
Dalam pendekatan ini, FP Robinson mengemukakan beberapa alasan dilakukannya pendekatan ini, antara lain:
Ø   Masalah dan situasi penyuluh selalu berbeda yang tak terbatas pada satu bidang kehiudpan.
Ø   Langkah-langkah pembimbing harus selalu disesuaikan dengan keperluan yang dituntut oleh situasi bimbingan.
b. Teknik Layanan Bimbingan Belajar
Ada beberapa teknik layanan bimbingan yang dapat dilakukan oleh seorang guru pembimbing, yaitu antara lain:
1)   Menghimpun data dan informasi mengenai individu yang bersangkutan.
2)   Menciptakan hubungan yang baik dengan klien serta memberikan
informasi yang meyakinkan dan memberikan pilihan rencana yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalahnya.
















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.        Bimbingan belajar adalah suatu bentuk kegiatan dalam proses belajar yang dilakukan oleh seseorang yang telah memiliki kemampuan lebih dalam banyak hal untuk diberikan kepada orang lain yang mana bertujuan agar orang lain dapat menemukan pengetahuan baru yang belum dimilikinya serta dapat diterapkan dalam kehidupannya.
2.    Prosedur layanan bimbingan belajar dapat melalui tahapan :
   Identifikasi kasus
   Identifikasi masalah
   Diagnosis
   Mengadakan prognosis
   Melakukan tindakan remedial atau membuat referral (rujukan)
   Evaluasi dan follow up
3.    Sistem Pendekatan Layanan Bimbingan dapat dilakukan dengan
a)  Pendekatan Direktif, suatu proses pendekatan yang menjadi pusatnya adalah konselor, bukan klien.
b) Pendekatan Non-Direktif, suatu proses pendekatan yang menjadi pusatnya adalah klien, bukan konselor.
c)  Pendekatan Eclective
4. Teknik Layanan Bimbingan Belajar dapat dilakukan oleh seorang guru pembimbing, dengan:
o  Menghimpun data dan informasi mengenai individu yang bersangkutan.
o  Menciptakan hubungan yang baik dengan klien serta memberikan informasi yang meyakinkan dan memberikan pilihan rencana yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalahnya.
B.     Saran
Bimbingan belajar seharusnya di lakukan secara kontinu, berkelanjutan dan bertahap sesuai dengan kondisi klien.



0 komentar:

Posting Komentar