Pages

Selasa, 01 Januari 2013

Keistimewaan Wudhu


PENDAHULUAN


1.      Latar Belakang
Latar belakang saya membuat makalah ini adalah untuk memenuhi tugas tengah semester mata kuliah Pendidikan Agama Islam 2. Di samping itu latar belakang saya membuat makalah ini adalah untuk menambah wawasan bagi pembaca tentang manfaat yang sangat baik untuk kesehatan dari berwudhu dan khususnya dalam gerakan shalat. Hal ini akan dijelaskan dalam makalah ini.
2.    Gambaran Singkat Isi Makalah
Shalat adalah amalan yang pertama akan dihisab pada hari kiamat. Apabila baik shalatnya, maka dianggaplah baik keseluruhan amalannya. Tentulah orang tersebut masuk surga. Inilah anugrah terindah yang bisa didapat oleh siapa saja yang mengerti, memahami dan mau berusaha menggapainya. Jika shalat hanya dijadikan sebagai kewajiban semata, maka keindahan ini tidak akan dirasakan dan kita akan semakin jauh dari surga. Gerakan-gerakan shalat memiliki manfaat yang sangat besar kepada kesehatan bagi yang menjalankannya dengan khusyuk dan terus menerus.
3.    Tujuan Makalah
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
A.           Mengetahui bagaimana berwudhu dan shalat yang sesuai dengan ajaran Allah SWT dan para Rasul.
B.           Mengetahui manfaat dari gerakan wudhu dalam kesehatan.
C.           Mengetahui manfaat gerakan shalat dalam kesehatan.
D.          Memenuhi tugas tengah semester mata kuliah Pendidikan Agama Islam 2.
4.    Pembatasan Masalah
Dalam makalah yang saya buat,  saya hanya menerangkan:
A.           Definisi wudhu dan shalat, serta syarat sah dan hal yang membatalkannya.
B.           Tata cara berwudhu yang baik dan dapat bermanfaat bagi tubuh.
C.           Tata cara shalat yang sangat bermanfaat bagi tubuh, namun tetap khusyuk.
D.          Keajaiban-keajaiban dibalik gerakan wudhu dan shalat yang sangat bermanfaat bagi kesehatan jasmani dan rohani.



5.     Sistematika Penulisan
Kata pengantar
Daftar isi
Pendahuluan
Isi makalah
Penutup
Daftar pustaka




























ISI MAKALAH
BAB I
SYARIAT WUDHU DAN SHALAT

A. Definisi Shalat
Shalat adalah amalan yang pertama akan dihisab pada hari kiamat. Apabila baik shalatnya, maka dianggaplah baik keseluruhan amalannya. Tentulah orang tersebut masuk surga. Inilah anugrah terindah yang bisa didapat oleh siapa saja yang mengerti, memahami dan mau berusaha menggapainya. Jika shalat hanya dijadikan sebagai kewajiban semata, maka keindahan ini tidak akan dirasakan dan kita akan semakin jauh dari surga.
Syariat shalat sudah diajarkan kepada umat Nabi Ibrahim, meski penyempurnaan ajaran itu disampaikan oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Ketika Nabi Muhammad SAW mi’raj ke lagit, beliau menerima perintah langsung dari Allah SWT akan kewajiban shalat. Kita, umat beliau di akhir zaman ini tinggal melaksanakan syari’at yang sudah demikian rinci ini, tanpa menambah dan menguranginya. Inilah jalan selamat yang dibutuhkan manusia untuk kebahagiaan dunia akhirat.

B. Syariat Wudhu
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhoi Islam menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah:3)
Kunci shalat adalah bersuci, apabila kita telah berwudhu dengan baik, maka satu pintu diterimanya shalat telah terbuka. Berikut ini merupakan hal-hal yang berkaitan dengan berwudhu dan shalat.
1.       Definisi Wudhu
Wudhu secara etimologi berasal dari shigat, yang artinya bersih.[1] Menurut wahbah Al-Zuhaili pengertian wudhu adalah mempergunakan air pada anggota tubuh tertentu dengan maksud untuk membersihkan dan menyucikan.[2] Adapun menurut syara’, wudhu adalah membersihkan anggota tubuh tertentu melalui suatu rangkaian aktivitas yang dimulai dengan niat, membasuh wajah, kedua tangan dan kaki serta menyapu kepala.[3]
Pensyari’atan wudhu bertitik pijak pada dua dalil, yaitu Al-Qur’an al-Karim pada surat Al-Maidah ayat 6 dan Al-Sunah.

“Hai rang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu degan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”[4]
2.      Hukum Wudhu
Hukum wudhu tidak bersifat mutlak tetapi tergantung kondisi dan kebutuhan. Berikut ini adalah hukum-hukum wudhu:
a.      Fardlu
·         Ingin melaksanakan shalat dalam keadaan berhadats.
Orang yang berhadats wajib berwudhu ketika hendak melaksanakan shalat, baik wajib maupun sunat, sempurna atau tidak sempurna. Barang siapa berwudhu untuk satu jenis saja maka ia boleh melakukan semuanya.
·         Ketika hendak memegang mushaf Al-Qur’an
Sebagian ulama mewajibkan berwudhu ketika hendak menyentuh A-lQur’an sekalipun tulisan satu ayat di atas kertas, dinding, atau uang,[5] berdasarkan Al-Qur’an:
“Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.”
Ulama hanafiah membolehkan menyentuh mushaf atau menuliskannya tanpa berwudhu dengan syarat:[6]
                                                          1).      Kondisi darurat / terpaksa.
                                                         2).      Adanya pembungkus yang terpisah atau kulit yang bersambung dengannya.
                                                         3).      Usia belum baligh, tetapi bagi yang sudah baligh dan wanita haidh tetap tidak boleh menyentuhnya kecuali dengan berwudhu baik dia sebagai guru atau murid.
                                                         4).      Hendaklah ia seorang Muslim, tidak boleh seorang Muslim membiarkan orang kafir menyentuhnya selagi dia sanggup melarangnya.
b.      Wajib
Wudhu wajib hukumnya bagi orang yang akan melaksanakan thawaf. Jumhur Ulama sepakat behwa hokum berwudhu bagi orang yang hendak thawaf adalah wajib.[7]
c.       Sunat / Mandub / Mustahab
Hukum wudhu adalah mandub (sunat) dalam banyak kondisi antara lain:
                                                    1).      Sebelum berdzikir dan berdo’a
                                                   2).      Sebelum tidur
                                                   3).      Setiap kali berhadats
                                                   4).      Setiap kali akan melaksanakan shalat
                                                   5).      Setelah membawa jenazah
                                                   6).      Ketika marah
                                                   7).      Beberapa pekerjaan baik, seperti adzan, iqamat, menyampaikan khutbah, mengkhitbah (melamar) perempuan dan ziarah ke makan Rasulullah.
                                                  8).      Sesudah melakukan kesalahan


d.      Makruh
Wudhu hukumnya makruh dilakukan ketika mengulang wudhu sebelum menunaikan shalat dengan wudhu yang pertama, artinya berwudhu di atas wudhu yang lain hukumnya makruh.[8]
e.      Mubah
Wudhu hukumnya mubah, jika wudhu dilakukan untuk kebersihan dan kesegaran.[9]
f.        Mamnu’ / Haram
Hanafiah beralasan ketika berwudhu dengan air rampasan dan anak yatim. Pengikut Madzab Hanbali mengatakan: Tidak sah wudhu dengan air hasil rampasan (ghasab).[10]
3.      Rukun Wudhu
a.      Niat
Niat adalah maksud hati terhadap sesuatu yang disertai dengan pelaksanaannya.[11] Adapun nita wudhu adalah suatu ketetapan hati untuk melakukan wudhu sebagai pelaksanaan dari perintah Allah SWT.[12]
Adapun dalil tentang kewajiban niat berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Sesunggguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya”[13]
b.      Mengucap Basmalah
Dengan niat untuk berwudhu didalam hati, Rasulullah SAW memulai berwudhu dengan mengucapkan “Bismillah”. Namun, ada juga yang menganggap bahwa mengucap basmalah bukan merupakan rukun wudhu, melainkan sunat wudhu.
c.       Membasuh wajah
Dalil wajibnya membasuh wajah adalah firman Allah SWT:
“Maka basuhlah wajahmu.”[14]
Membasuh (al-ghaslu) adalah mengalirkan air ke anggota tubuh denganmerata. Menurut pendapat yang lain al-ghaslu adalah mengalirkan air ke atas sesuatu dengan tujuan untuk menghilangkan kotoran atau sejenisnya. Adapun batas membasud wajah adalah tinggi dari tempat tumbuhnya rambut (atas kening) sampai ke bawah dagu, lebar adalah jarak dua daun telinga. Bagi orang yang memiliki jenggot tipis hendaklah membasuh sampai air mengenai kulitnya. Bagi orang yang memiliki jenggot tebal hendaklah ia mentakhlilnya (menyela-nyela)[15]
d.      Membasuh kedua tangan sampai siku
Dalil perintah membasuh kedua tangan sampai siku adalah firman Allah:
”Dan membasuh kedua tangan sampai siku”[16]
Tangan adalah organ tubuh antara ujung jari sampai siku. Sedangkan siku adalah sendi yang terletak antara pangkal lengan dengan pergelangan tangan. Oleh sebab itu membasuh dua siku adalah wajib.
Cara membasuh kedua tangan sampai siku adalah dimulai dari tangan kanan: ujung jari dengan membersihkan sela-sela jari, menggosok lengan sampai ke siku. Setelah selesai dengan tangan kanan sebanyak 3 kali, dilanjutkan tangan kiri dengan cara yang sama.[17]
e.      Menyapu kepala
Menyapu kepala termasuk telinga sebagai rukun wudhu didasarkan atas firman Allah SWT dalam surah Al-Maidah ayat 6:
”Dan sapulah kepalamu”
Menyapu (almashu) adalah melewatkan tangan yang basah di atas anggota tubuh. Sedangkan kepala adalah suatu tempat yang biasa ditumbuhi rambut yang letaknya dari atas kening sampai ke belakang tengkuk dan termasuk kedalamnya adalah pelipis yang letaknya diatas tulang yang biasa timbul di wajah. [18] Adapun menyapu sebagian kepala baik sedikit atau banyak, diperbolehkan sepanjang ia masih dalam pengertian yang benar tentang menyapu dan tentang menyapu satu atau tiga helai rambut saja hal itu tidaklah benar.[19]
Ada tiga cara mengusap kepala:
Pertama, mengusap dengan dua tangan dimulai dari bagian dpan, terus kebelakang, kemudian dari belakang diteruskan ke dapan dan memasukkan jari telunjuk ke dalam kedua telinga, sedangkan ibu jari menggosok telinga bagaian luar.[20]
Kedua, apabial seseorang mengenakan serban dikepalanya maka cukup membasuh serbannya.[21] Ketiga, membasuh ubun-ubun dan serban sekaligus.[22]
f.        Membasuh kedua kaki sampai mata kaki
Perintah membasuh kedua kaki sampai mata kaki dalam berwudhu berdasarkan firman Allah SWT:
”Dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.”
Dua mata kaki (ka’bain) adalah dua tulang yang menonol disamping, tepatnya dipersendian betis dengan telapak kaki. Membasuh kaki adalah wajib sesuai dengan kesepakatan umat berdasarkan nash Al-Qur’an dan hadits.
Cara membasuh kedua kaki adlah dimulai dengan membasuh ujung-ujung jari sampai mata kaki, mencuci mata kaki dan membersihkan sela-sela jari kaki. Setelah selesai kaki kanan sebanyak 3 kali, dilanjutkan kaki kiri dengan cara yang sama.
g.      Tertib
Tertib dalam melakukan wudhu hukumnya wajib. Artinya jika mendahulukan sebagian anggota dan mengakhirkan yang lain bukan menurut aturan sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Qur’an, maka wudhunya batal atau tidak sah. Praktek wudhu menurut sunah (contoh Rasul) adalah tertib. Tidak terdapat suatu riwayatpun tentang wudhu melinkan beliau melakukannya dengan tertib. Yang dimaksud tertib disini adalah tersusun sebagaimana urutan dalam Al-Qur’an.[23]
h.     Membaca doa setelah berwudhu
Adapun riwayat yang menjelaskan tentang berdoa setelah berwudhu adalah hadits riwayat Muslim bahwa setelah berwudhu, nabi berdoa:
”Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Allah yang tidak pernah ada sekutu bagiNya dan saya bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya”
Dalam hadits tersebut dikabarkan bahwa barangsiapa berwudhu dengan sempurna, kemudian berdo’a maka akan dibukakan pintu surga yang delapan, ia dapat masuk melalui pintu manapun yang dikehendaki. Subhanallah!.
4.      Syarat Wudhu
Syarat menurut para ulama fiqh adalah sesuatu yang tergantung padanya keberadaan hukum syar’i dan ia berada di luar hukum itu sendiri. Ketiadaannya, hukum pun tidak ada. Fuqaha membagi syarat wudhu menjadi dua, yaitu syarat wajib dan syarat sah wudhu.
a.      Syarat Wajib Wudhu
Wahbah al-Zuhaili, guru besar fiqih Universitas Damaskus mengemukakan bahwa wudhu diwajibkan kepada seseorang apabila ia memenuhi delapan syarat berikut:
                                                    1).      Berakal, wudhu tidak wajib bagi orang gila, pingsan, kesurupan, tidur.
                                                   2).      Baligh, wudhi tidak wajib bagi anak kecil yang belum baligh, tetapi wudhunya tetap sah.
                                                   3).      Muslim, karena yang mendapat perintah dari Allah (Haakim) adalah khusus orang Islam (mahkum ’alaih).
                                                   4).      Mampu menggunakan air yang suci dan cukup. Kemampuan orang yang menggunakan air menjadi syarat wajib wudhu, maka tidak wajib berwudhu bagi orang sakit karena ia tidak bisa mengunakannya juga ketika air tidak ada dan kalau seseorang mendapatkan sedikit air maka ia boleh membasuh satu kali satu kali.[24]
                                                   5).      Sedang berhadats kecil, seseorang yang telah berwudhu tidak ada kewajiban untuk mengulang lagi wudhunya.
                                                   6).      Tidak sedang haid.
                                                   7).      Tidak sedang nifas.
                                                  8).      Ketika waktu untu mengerjakan ibadah sudah datang.
b.      Syarat Sah Wudhu
Fuqaha madzhab Hanafi mengemukakan syarat sah wudhu ada tiga, sementara menurut jumhur ada empat, yaitu:
                                                    1).      Menyiramkan air secara merata ke semua anggota tubuh yang dibasuh.
                                                   2).      Menghilangkan apa-apa yang dapat menghalangi sampainya air ke anggota tubuh yang dibasuh.
                                                   3).      Berhentinya segala yang membatalkan wudhu ketika wudhu dimulai, seperti haid, nifas dan hadats kecil
                                                   4).      Berwudhu setelah masuk waktu seperti halnya orang yang bertayamum dan bagi yang memiliki udzur selalu berhadats seperti menetesnya air seni. Syarat keempat ini menurut jumhur fuqaha selain Hanafiah.[25]
5.      Pembatal Wudhu
Hal-hal yang dapat membatalkan wudhu adalah sebagai berikut:
a.      Segala sesuatu yang keluar dari dubur atau qubul.
b.      Melahirkan.
c.       Tidur lelap.
d.      Muntah.
e.      Hilang akal.
f.        Bersentuhan kulit pria dan wanita tanpa penghalang.
g.      Menyentuh kemaluan, qubul atau dubur.
h.     Tertawa dalam shalat.
i.        Makan daging unta.
j.        Memandikan mayat.
k.      Ragu berhadats atau tidak.
l.        Sesuatu yang mewajibkan mandi.[26]

C. Syariat Shalat
Menegaskan kembali bahwa tata cara sahalat kita harus sesuai dengan tuntunan Nabi SAW. Segala bentuk penambahan dan pengurangan dari tata cara shalat adalah tidak baik. Berikut adalah tata cara shalat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW:
1.       Niat
Yaitu niat dari hati untuk melaksanakan shalat tertentu, hal ini berdasarakan sabda Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. (Muttafaq ’alaih). Dan niat itu dilakukan bersamaan dengan melaksanakan takbiratul ihram dan mengangkat kedua tangan, namun tidak masalah jika niat lebih dahulu dari keduanya.
2.      Berdiri
Shalat dilakukan berdiri bagi yang mampu. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
”Peliharalah segala shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wustha (Ashar). Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Al-Baqarah: 238)
Dan berdasarkan sabda Rasulullah SAW kepada Imran bin Hushain: ” Shalatlah kamu dengan berdiri, apabila tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu juga maka shalatlah dengan berbaring ke samping.” (H.R. Bukhori).
3.      Takbiratul Ihram
Yaitu dengan lafadz: ”Allahu Akbar”. Takbiratul Ihram tersebut harus diucapkan dengan lisan, tidak hanya di dalam hati. Juga disunahkan untuk mengangkat kedua tangan. Setelah takbiratul ihram, disunahkan bersedekap dengan cara menggenggam pergelangan tangan kiri dengan tangan kanan dan meletakannya di atas dada (Hadits An Nasa’i). Atau meletakkan telapak tangan kanan di atas telapak tangan kiri kemudian meletakkan di atas dada (Hadits riwayat Abu Dawud).
4.      Membaca Al-Fatihah
Sebelum membaca Al-Fatihah disunahkan membaca doa isti’adzah dan basmallah. Membaca surat Al-Fatihah termasuk rukun shalat, tidak sah shalat jika tidak membacanya.[27] Setelah membaca Al-Fatihah disunahkan untuk membaca ”amin” (HR Bukhari dan Muslim) dan suart lain yang dihafal. Boleh dibaca satu surat secara utuh atau hanya beberapa ayat dalam Al-Qur’an.
5.      Rukuk
Perintah untuk rukuk terdapat dalam firman Allah SWT:
”Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.”[28]
Rukuk dilakukan seraya mengucapkan takbir, mengangkat kedua tangan sebagaimana pada waktu takbiratul ihram. Nabi meletakkan kedua tangannya di atas kedua lutut menggenggamnya. (H.R Abu Dawud dan Al Hakim). Posisi punggung pada waktu rukuk dijelaskan dalam hadits: Wabisyah bin Ma’dab berkata: ”Aku pernah menyaksikan Rasulullah mengerjakan shalat, dimana ketika rukuk, beliau meluruskan punggungnya sehingga apabila dituangkan air diatasnya, air akan tetap di tempat (hR Ibnu Majah).

6.      I’tidal
Bangkit dari rukuk seraya mengucapkan ”Sami’allahu liman hamidah”, disunahkan mengangkat tangan seperti ketika takbiratul ihram. Hendaknya dilakukan sampai tegak lurus berdiri.[29] Setelah tegak berdiri, hendaknya membaca do’a i’tidal.
7.      Sujud
Gerakan sujud dimulai dengan mengucapkan takbir ”Allahu Akbar”, turun dengan mendahulukan kedua lutut kemudian kedua tangan.[30] Sujud dilakukan dengan tujuh anggota badan, yaitu jari jemari kedua kaki, kedua lutut, kedua tangan dan di atas dahi.[31] Kedua tangan diletakkan dengan menghadapkan jari-jari ke arah kiblat, tanpa menggenggam dan tidak pula mengembangkannya.[32]
8.     Duduk antara dua sujud
Ketika bangkit dari sujud, disunahkan membaca takbir kemudian duduk di antara dua sujus dengan bertumpu di atas telapak kaki kiri dan menegakkan telapak kaki kanan (duduk iftirasyi). Tangan diletakkan di atas paha dan ujung jari-jari tangan di atas lutut. Tangan kanan diletakkan di atas lutut kanan, tangan kiri di atas lutut kiri, seolah-olah menggenggamnya seraya mengucapkan do’a. Kemudian dilakukan sujud yang kedua, sebagaimana yang dilakukan pada sujud pertama.
9.      Tuma’ninah ketika rukuk, sujud, berdiri, dan duduk.
Tuma’ninah ditegaskan pada saat rukuk, sujud dan duduk, sedang i’tidal pada saat berdiri. Hakikat tuma’ninah ialah orang yang rukuk, sujud, duduk atau berdiri itu berdiam sejenak. Lamanya sekedar waktu yang cukup untuk membaca bacaan yang dituntunkan sebanyak satu kali setelah semua anggota tubuhnya berdiam. Adapun selebihnya dari itu adalah sunah hukumnya.
10.  Bangkit dari sujud
Selesai sujud kedua kemudian bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua dengan bertumpu kepada kedua lutut seraya mengucap takbir. Raka’at kedua dilaksanakan sebagaimana raka’at pertaman, hanya tidak perlu membaca do’a iftitah dan isti’adzah.
11.   Tasyahud Awal
Duduk tasyahud awal dilakukan sebagaimana cara duduk di antara dua sujud, yaitu duduk iftirasy. Adapun posisi tangan kanan di atas paha kanannya, mengisyaratkan jari telunjuk yang dekat dengan ibu jari ke arah kiblat sambil mengarahkan pandangan padanya atau ke arahnya (HR Nasa’i). Adapun tangan kiri tetap diletakkan di atas lutut kiri seolah menggenggamnya atau boleh juga membentangkan tanpa menggenggamnya seraya mengucapkan doa.
12.  Tasyahud Akhir
Cara Rasulullah SAW duduk tawarrukdalam raka’at terakhir shalatnya, beliau memajukan kaki sebelah kiri dan menegakkan kaki kanan, serta duduk di atas bokongnya.[33] Posisi tangan sama dengan pada tasyahud awal. Doa yang dibaca sama dengan tasyahud awal ditambah membaca shalawat kepada nabi dan keluarganya.
13.  Salam
Sebagai penutup shalat adalah salam. Apabila seseorang menyalahi urutan rukun shalat sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah SAW, seperti mendahulukan yang semestinya diakhirkan atau sebaliknya, maka batallah shalatnya.

























BAB II
Keajaiban Gerakan Wudhu Dan Shalat Menurut Pandangan Medis

A. Rahasia Jumlah Tulang Manusia dan Hubungannya dengan Wudhu
Secara anatomis, anggota wudhu terletak pada ujung-ujung tubuh (kepala, tangan, kaki). Bagian-bagian tersebut paling banyak mengandung susunan tulang dan sendi, dan banyak pula melakukan gerakan-gerakan. Dalam hubungannya dengan wudhu, pembasuhan anggota wudhu kebanyakan tiga kali dan ada yang satu kali. Dalam kajian dr. Sagiran, didapatkan bahwa tubuh ini mengandung sejumlah tulang yang mendekati bilangan hari dalam setahun. Tulang-tulang penyusun anggota wudhu jumlahnya tertentu, dikalikan masing-masing dengan jumlah kali pembasuhan pada saat wudhu, akan menghasilkan bilangan yang sama dengan keseluruhan jumlah tulang manusia. Berikut penjelasannya:
1.       Lengan dan tangan: 30 buah (terdiri atas 1 buah tulang lengan atas, 2 buah tulang lengan bawah, 8 buah tulang pergelangan tangan, 19 buah tulang telapak dan jari-jari).
2.      Tungkai dan kaki: 31 buah (terdiri atas 2 buah tulang tungkai bawah, 8 buah tulang pergelangan kaki, 21 buah tulang telapak dan jari-jari).
3.      Wajah: 12 buah (terdiri atas tulang dahi, baji, rahang atas-bawah masing-masing 1 buah, tulang air mata, pelipis, hidung dan pipi masing-masing 2 buah).
4.      Rongga mulut dan hidung: 41 buah (terdiri atas geligi 32 buah, langit-langit dan rahang masing-masing 1 buah, sekat dan karang hidung 7 buah).
5.      Kepala dan telinga: 12 buah (terdiri atas 2 buah tulang pelipis, 2 buah tulang ubun-ubun, 1 buah tulang baji, dahi, dan belakang kepala, 6 buah tulang pendengaran).
Bagian tubuh pada poin a-d dijumlahkan menghasilkan angka 114. angka tersebut dikalikan 3 karena pembasuhan waktu melakukan wudhu sebanyak 3 kali, menghasilkan angka 342. Poin e tidak dikalikan 3 karena karena memang hanya satu kali pembasuhan, sehingga jumlah dari poin a-e adalah 354, yakni sama dengan jumlah hari dalam 1 tahun hijriyah, selain itu sama dengan jumlah seluruh tulang manusia. Dengan demikian, membasuh anggota wudhu pada saat berwudhu seakan-akan sudah membasuh seluruh tubuh.[34]



B. Wudhu dan Aliran Darah Perifer
Dalam Hadits riwayat Imam yang empat (Imam Abu Hanafiah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad Hambal) diterangkan, ”Sempurnakanlah dalam berwudhu dan gosoklah sela-sela jari-jari kalian... .” Perintah ini secara medis sangat bermakna. Ternyata, dibagian itulah berjalan serabut saraf, arteri, vena, dan pembuluh limfe. Penggosokan daerah sela-sela jari sudah tentu memperlancar aliran darah perifer (terminal) yang menjamin pasokan makanan dan oksigen.
Selain itu, serabut saraf juga secara langsung distimulasi oleh perbuatan kita menggosok sela-sela jari. Ujung jari sampai telapak tangan adalah bagian yang paling sensitif, karena paling banyak mengandung simpul reseptor saraf. Tiap 1 cm2 kulit di daerah itu, terdapat 120-230 ujung saraf peraba. Dari sini kita bisa pahami bahwa bagi orang yang tidak bisa melihat, tangan bagaikan ”mata”, karena dengan tangan dia bisa membaca huruf braile. Oleh sebab itu hendaknya kita mensyukuri serta merawatnya dengan senantiasa melaksanakan semua kewajibanNya dan menjauhi semua laranganNya.

C. Ear Acupunture
Akupuntur telinga berkembang menjadi suatu cabang spesialisasi kedokteran di China. Menurut ilmu akupuntur, telinga adalah representasi dari tubuh manusia. Bentuk telinga serupa dengan bentuk tubuh saat masih berupa janin yang meringkuk dalam rahim ibu. Kepalanya adalah bagian yang sering dipasang anting. Daerah lubang adalah rongga tubuh tempat tersimpannya organ-organ dalam. Melakukan stimulasi seperti wudhu akan berpengaruh baik terhadap fungsi organ dalam. Adapun lingkaran luar menggambarkan punggung. Pemijatannya juga seakan-akan melakukan stimulasi daerah punggung dan ruas-ruas tulang belakang.

D. Keistimewaan Gerakan Shalat
1.       Berdiri dalam Shalat
Kita diperintahkan untuk berdiri tegak, simetris antara belahan tubuh kanan dan kiri. Beberapa unsur medis yang perlu dibahas adalah:
a.      Titik tumpu berat badan. Berat badan menumpu ditelapak kaki, dibagi di kedua kaki kanan-kiri sama berat. Ditelapak kaki terdapat titik-titik refleksi/akupuntur yang sangat penting untuk menstrimulasi organ-organ dalam tubuh orang yang shalat. Cara menumpu yang demikian juga akan membuat postur tubuh kita lurus, serasi da tegap.
b.      Jari-jari menghadap ke arah kiblat. Dengan menghindari kaki yang merapat dan membentuk sudut 45 derajat, serta mengusahakan agar mata kaki terekspose keluar (tumit lebih diregang keluar). Maka, otomatis kaki mengarah searah dengan kita menghadap, tidak serong menyamping keluar. Dengan demikian, jari-jari pun akan mengarah ke kiblat.
Efek lain dari berdiri tegak yang juga dapat dipertimbangkan adalah tumpuan berat badan yang merata akan membuat kompaksitas susunan tulang-tulang penyangga tubuh menjadi rata. Hal ini bermanfaat terhadap penurunan resiko terjadinya patah tulang yang sering begitu mudah terjadi meski hanya dengan terpeleset di kamar mandi, turun tangga, dll.
Dalam ilmu orthopedi (bedah tulang) terdapat teori trabekulasi tulang. Berat tubuh yang menumpu ditungkai akan diproyeksikan dan di distribusikan di sepanjang tungkai. Jalur distribusi itu membuat tulang lebih padat, sementara bagian yang berada di luar jalur lebih tipis matriksnya.
Allah SWT mengingatkan kita didalam firmanNya:
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”[35]
Salah satu bentuk kemalsan itu adalah kaki kanan menopang hampir seluruh berat tubuh, sementara kaki kiri seakan-akan istirahat dari tugas menopang berat badan, atau sebaliknya, apabila kita memperhatikan orang yang demikian, dia akan tampak lesu dan tidak bersemangat.
2.      Gerakan Takbiratul Ihram
Gerakan memulai shalat dengan mengangkat tangan sedemikian sehingga telapak menghadap kiblat disamping kanan kiri bahu atau wajah kita. Beberapa hal yang penting dibahas dari sisi medis adalah:
a.      Kata ”ALLAHU AKBAR”. Harian Arab Saudi Al-Watan melaporkan bahwa profesor Vander Hoven menyimpulkan, mereka orang muslim yang membaca Al-Qur’an dengan teratur dapat mencegah penyakit-penyakit psikologis. Lebih lanjut profesor itu menjelaskan, bagaimana setiap huruf dari kata ALLAH itu mempengaruhi penyembuhan psikologis. Ternyata mengucapkan kata ini, tidak pernah dijumpai pada bahasa-bahasa lain di dunia. Secara fisiologis, pengucapan huruf pertama, yakni ”A” melapangkan sistem pernafasan, berfungsi mengontrol gerak nafas. Kemudian saat mengucapkan konsonan ”L” menurut cara orang Arab dengan lidah tertarik ke langit-langit dan sedikit tergelincir dibagian rahang atas, sejenak tertahan sebelum kemudian mengucapkan bunyi ”LOH” membentuk ruang tertentu di rongga mulut. Jeda yang pendek dan kemudian disusul dengan jeda yang sama secara berurutan ini menimbulkan pengaruh yang nyata terhadap relaksasi pernafasan. Juga, pengucapan huruf terakhir, yakni ”H” membuat kontak antara paru-paru dan jantung dan pada gilirannya kontak ini dapat mengontrol denyut jantung.
b.      Rongga dada melebar. Pada saat gerakan takbir, bahu terangkat sedikit, tulang-tulang rusuk ikut terangkat menimbulkan kelebaran rongga dada. Akibatnya, tekanan udara di dalam rongga mengecil dan memudahkan udara nafas masuk dengan cepat.
c.       Melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Selain itu menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.
d.      Sekat rongga badan (diafragma) terlatih. Berpengaruh terhadap fungsi-fungsi fisiologis lainnya, karena pasti di otak terjadi asosiasi dan sinkronisasi pusat. Pusat pengaturan gerak dan kerja organ-organ dalam.
e.      Ketiak dibuka. Ketiak adalah stasiun regional utama bagi peredaran limfe (getah bening) yang merupakan kumpulan dari keseluruhan anggota gerak bagian atas (tangan, lengan bawah, lengan atas, dan bahu). Gerakan ini adalah gerakan ”active pumping” yang sangat bermanfaat.
3.      Rukuk
Rukuk adalah membungkukkan badan sedemikian sehingga punggung, leher, dan kepala menjadi posisi horizontal. Posisi kaki masih tetap seperti saat berdiri pada awalnya. Pada saat rukuk sempurna, tulang belakang menjadi relatif lurus. Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan
a.      Posisi horizontal. Posisi ini memungkinkan berat badan bergeser ke depan dan tubuh seakan-akan ingin terperosok ke depan. Dengan posisi demikian, kompresi antar ruas-ruas tulang belakang dapat dikurangi.
b.      Kedua lengan menyangga, tangan memegang di lutut. Penyanggan ini lebih mendorong lagi ke depan ruas-ruas tulang belakang sehingga kompresi bukan hanya di kurangi akan tetapi bahkan terjadi gerakan anti kompresi alias peregangan.
4.      Sujud
Sujud adalah bentuk ketundukan tertinggi seorang hamba di hadapan Tuhannya. Sujud adalah satu-satunya posisi dimana otak bisa lebih rendah dari jantung, yang mudah dikerjakan tanpa harus menjungkirbalikan tubuh. Gerakan sujud merupakan urutan-urutan dari gerakan-gerakan:
a.      Tubuh merendah dengan menekukkan badan dan lutut.
b.      Telapak tangan mencapai lantai.
c.       Di susul lutut mencapai lantai, jari-jari kaki tertekuk, telapak kaki berdiri tegak.
d.      Tangan di lantai menggeser maju ke depan.
e.      Muka tersungkur menyentuh lantai pada jidat dan hidung.
f.        Pantat di angkat, paha pada posisi tegak lurus.
g.      Kedua telapak kaki dirapatkan, dengan tetap berdiri tegak dan jari-jari menekuk sehingga tetap mengarah ke kiblat.
Pengaruh sujud terhadap peredaran darah di otak juga dapat dipahami. Elastisitas pembuluh darah merupakan faktor terpenting yang dapat mempertahankan tekanan darah. Debit darah yang naik karena posisi jantung lebih tinggi dari otak ini merupakan latihan otak menambah elastisitas pembuluh darah, pada gilirannya gerakan sujud bisa merupakan gerakan anti-stroke. Stroke terjadi bila terdapat pembuluh darah di otak tersumbat atau pecah, sehingga sebagian otak mengalami gangguan, tampak sebagai keadaan lumpuh sepauh badan.
Adapun pengaruh posisi rukuk dan sujud ini terhadap organ-organ dalam adalah memperkuat ikatan penggantung organ ke dinding rongga tempat organ itu berada. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lama. Ini menguntungkan wanita karena dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila, otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami ia justru lebih elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).
5.      Duduk dalam Shalat
Al-Qaadah atau Julus adalah posisi duduk dalam shalat yang sangat unik. Posisi tersebut dapat menghentikan aliran pembuluh darah utama di tungkai, sehingga menambah debit aliran darah ke otak dan organ dalam lainnya. Pada waktu yang sama mengembangkan sirkulasi melalui pembuluh kolateral di kaki.
Saat gerakan duduk mencapai tekukan sudut lutut ± 60 derajat, saturasi menurun sampai 93% dan akhirnya denyut nadi hilang, saturasi tidak terdeteksi lagi. Pada saat itu, aliran darah utama berhenti total. Debit darah ke otak dan organ penting bertambah, metabolisme meningkat, bekerja dengan konsentrasi pikiran tinggi dapat bertahan lebih lama. Secara simultan, pada tungkai akan mengembang sistem sirkulasi kolateral yang sangat efektif, pembuluh darah menjadi lebih elastis, bahkan dapat mencegah komplikasi sumbatan arteri, vena, dan komplikasi penyakit diabetes berupa pembusukan kaki akibat gangguan pembuluh darah.
Duduk dengan jari-jari kaki menekuk juga merupakan relaksasi maksimal dari kelompok otot-otot di betis. Saat duduk seperti ini otot-otot tersebut diregangkan maksimal sehingga terjadi pemulihan dan bebas dari timbunan asam laktat penyebab nyeri dan kelelahan. Dengan duduk ini pula seluruh persendian di tungkai, kaki, dan jari-jari menjadi aktif, lentur dan bebas pengapuran serta kekakukan. Efek lebih lanjut tentu lebih kuat dan tahan terhadap taruma fisik dan mekanik.
Saat duduk tawarruk, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.
6.      Gerakan Salam
Salam adalah perbuatan yang terakhir dalam shalat. Salam diucapkan dua kali, disertai dengan gerakan menoleh ke kanan dan ke kiri sehingga pipi dapat dilihat oleh orang yang berada di belakangnya. Salam pertama termasuk rukun shalat, sedang yang kedua hukumnya sunah. Gerakan salam cukup bermakna melatih kelenturan leher. Penjepitan saraf disigmen ini cukup sering terjadi. Gerakan salam memperkuat otot-otot dan seluruh struktur leher berikut fungsi refleks-refleksnya.

E. Hikmah dan Rahasia Waktu Shalat
1.       Hikmah dan Rahasia Shalat diwajibakan lima kali dalam sehari semalam ialah:
    1. Untuk menumbuhkan perasaan tunduk dan takut kepada Allah dengan mengulang-ulang shalat dalam sehari semalam lima kali, maka tumbuhlah dengan berulang-ulang perasaan tunduk dan takut kepada Allah, serta berulang-ulang pula perasaan itu mempengaruhi jiwa. Apabila perasaan tunduk dan takut tertanam kuat dalam hati, maka diharapkan seseorang dapat selalu mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan.
    2. Untuk meringankan dan mengekalkan shalat. Dengan ditentukan jumlah rakaat setiap kali shalat antara dua sampai empat rakaat, maka terasa ringan mengerjakannya. Dengan demikian seseorang dapat mengerjakan terus menerus.
    3. Untuk mengekalkan ingatan kepada Allah. Apabila shalat dikerjakan dalam satu kali, maka waktu menghadap dan mengingat Allah hanya sekali. Tetapi kalau dikerjakan lima kali dalam sehari semalam, maka waktu menghadap dan mengingat Allah lebih banyak sehingga lebih memungkinkan untuk selalu ingat kepada Allah.
2.      Rahasia penentuan waktu shalat wajib.
Ditentukan shalat wajib pada waktu subuh, dzuhur, ashar, maghrib dan isya’ mengandung rahasia-rahasia sebagai berikut:
a.      Karena pada waktu-waktu itu bertebaran kekuatan rohani malaikat dan saat-saat mudah diterima do’a. Adapun waktu-waktu tersebut ialah:
-      Sejenak sebelum terbit matahari
-      Sejenak sesudah tinggi matahari
-      Sejenak sesudah terbenam matahari
-      Sejenak tengah malam sampai waktu sahur
Mengingat penentuan waktu shalat seperti tersebut diatas, maka:
                                              1).      Disukai shalat di awal waktunya.
                                             2).      Disukai mengakhirkan shalat isya’.
                                             3).      Dibolehkan bagi musafir menjama’ shalat dzuhur dengan ashar dengan shalat maghrib dengan shalat isya’.
b.      Untuk meneladani rasul-rasul dahulu.
c.       Untuk menyatakan kesyukuran pada Allah pada waktu yang sepatutnya dipergunakan untuk bersyukur.

F. Hikmah dan Rahasia Shalat
Hikmah dan rahasia shalat yang terkandung dalam shalat antara lain:
1.       Mengingatkan kepada Allah, menghidupkan rasa takut dan tunduk kepadaNya, serta menumbuhkan dalam jiwa rasa kebesaran dan kekuatanNya. Allah berfirman dalam Surat Thaha ayat 14.
2.      Menyucikan roh dan menjauhkan dari perbuatan jahat. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam Surat Al-Ankabut ayat 45.
3.      Mendidik dan melatih manusia menjadi orang yang tenang dalam mengahdapi segala penderitaan dan menghilangkan sifat kikir. Allah berfirman dalam Surat Al-Ma’aarij ayat 22.
4.      Menghapus dosa.
5.      Mendidik disiplin, sebagaimana firman Allah dalam Surat An Nisa ayat 103.
6.      Mendidik kebersihan
7.      Menjaga kesehatan.


PENUTUP

A.     KESIMPULAN
1.       Membasuh anggota wudhu pada saat berwudhu seakan-akan sudah membasuh seluruh tubuh, karena jika jumlah tulang yang kita basuh dikalikan 3 (untuk pembasuhan 3 kali) dan dikalikan 1 (untuk pembasuhan 1 kali), maka jumlahnya 354 sama dengan jumlah hari dalam 1 tahun dan jumlah tulang manusia.
2.      Dalam berwudhu, kita diperintahkan untuk menggosok sela-sela jari, karena ternyata dibagian itulah berjalan serabut saraf, arteri, vena, dan pembuluh limfe. Penggosokan daerah sela-sela jari dapat memperlancar aliran darah perifer (terminal) yang menjamin pasokan makanan dan oksigen.
3.      Menurut ilmu akupuntur, telinga adalah representasi dari tubuh manusia. Melakukan stimulasi seperti wudhu akan berpengaruh baik terhadap fungsi organ dalam tubuh kita.
4.      Gerakan berdiri tegak pada shalat dapat bermanfaat melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh dan penurunan resiko terjadinya patah tulang yang sering terjadi.
5.      Gerakan takbiratul ihram dapat bermanfaat, pada saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar dan menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas. Selain itu, sekat rongga badan (diafragma) akan terlatih, dan pada posisi ini akan terjadi gerakan ”active pumping” yang sangat bermanfaat.
6.      Gerakan rukuk pada shalat bermanfaat, karena pada saat rukuk sempurna, tulang belakang menjadi relatif lurus ini mengakibatkan terjadinya gerakan anti kompresi alias peregangan. Postur ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat
7.      Pada saat gerakan sujud, debit darah yang naik karena posisi jantung lebih tinggi dari otak ini merupakan latihan otak menambah elastisitas pembuluh darah, yang dapat menjadikannya gerakan anti-stroke. Selain itu, dapat memperkuat ikatan penggantung organ ke dinding rongga tempat organ itu berada dan tubuh dapat mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi)
8.     Pada saat duduk dalam shalat, otot-otot tersebut diregangkan maksimal sehingga terjadi pemulihan dan bebas dari timbunan asam laktat penyebab nyeri dan kelelahan. Dengan duduk ini pula, seluruh persendian di tungkai, kaki, dan jari-jari menjadi aktif, lentur dan bebas pengapuran serta kekakukan.
9.      Gerakan salam pada shalat juga bermanfaat untuk melatih kelenturan leher, memperkuat otot-otot dan seluruh struktur leher berikut fungsi refleks-refleksnya. Selain itu, gerakan ini dapat mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah.
10.  Jika kita menjalankan shalat dengan khustuk dan penuh kedisiplinan, masih banyak manfaat lain yang dapat kita terima, karena Allah tidak akan memerintahkan hambanya atas sesuatu yang tidak bermanfaat bagi hambanya tersebut.

B.     SARAN
1.       Dalam menjalankan shalat, hendaknya kita menjalankannya dengan ikhlas dan senang hati, karena dengan hal itu kita akan lebih merasakan manfaat dari shalat itu.
2.      Dalam setiap gerakan shalat, jangan terlalu terburu-buru, laksanakanlah tuma’ninah supaya manfaat dari setiap gerakan shalat dapat lebih terasa.
3.      Selalu bersyukur, atas semua yang telah Allah perintahkan, niscaya semua ada hikma dan manfaatnya.

















DAFTAR PUSTAKA

Hasanudin, Oan. 2007. Mukjizat Berwudhu. Jakarta: Qultummedia.
Husnan, Djaelan, dkk. 2009. Islam Integral Membangun Kepribadian Islami. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.
Sagiran. 2007. Mukjizat Gerakan Shalat. Jakarta: Qultummedia.
2005. Gerakan Shalat Bermanfaat Untuk Kesehatan Tubuh. Diakses dari http://tahajudcallmq.wordpress.com. Tanggal 03/10/2010.
Indah Mulya. 2008. Gerakan Shalat Mengandung Terapi Kesehatan. Dari edisi no. 477 Tahun VI.
Abi Nizma. 2006. Gerakan Shalat dan Kesehatan di Dalamnya. Diakses dari www.dudung.net. Tanggal 03/10/2010.


[1] A.W. Munawwir, Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap,Cet. Ke-4, (Surabaya:Pustaka Progressif, 1997), hlm. 1564
[2] Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adilatuhu, (Mesir: Daar al-Fikri), hlm.359-360.
[3] Ibid. Abdu al-Rahman al-Jaziri, Silsilah –Arba’ah, Juz 1, (Mesir: Dar al-Fikr, 1996), hlm. 44.
[4] QS Al-Maidah: 6.
[5] QS. Al-Waqi’ah: 79
[6] Ibid, hlm.203
[7] Wahbah Al-Zuhaily, op. cit, hlm.361
[8] Ibid, hlm.364
[9] Ibid, hlm.365
[10] Ibid, hlm.364
[11] Ibid, hlm. 211
[12] Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Minhaj Al-Shahih Muslim, (Daar Al-Fikr: Beirut, 1995), hlm. 167. Sayyid Sabiq, op. cit., hlm.53
[13] Bukhari
[14] QS. Al-Maidah: 6
[15] Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir munir, loc.cit.
[16] QS Al-Maidah: 6
[17] Sagiran. 2007.Mukjizat Gerakan Shalat. Qultummedia: Jakarta. Hlm.10.
[18] Wahbah A-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islam Wa adilatuhu, op.cit., hlm. 371
[19] Wahbah Al-Juhaily, Al-Fiqh Wa Adilatuhu, op.cit., hlm.374
[20] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i.
[21] Hadits yang diriwayatkan dari Amru bin Umayyah.
[22] Hadits yang diriwayatkan dari Al Mughirah bin Syubah Ibnu Baz dan Ibnu Taimiyyah.
[23] Ibid, hlm. 215
[24] Ibid, Wahbah Al-Zuhaily, op. cit.,
[25] Wahbah, op. cit., hlm. 391-392.
[26] Ibid, hlm. 418-436
[27] HR Bukhari
[28] Al-Hajj: 77
[29] HR Bukhari Muslim
[30] HR Hakim
[31] H.R Bukhari Muslim
[32] HR Abu Dawud
[33] HR Bukhari
[34] Sagiran. 2007.Mukjizat Gerakan Shalat. Qultummedia: Jakarta. Hlm.35-37.
[35] QS An Nisa: 142

0 komentar:

Poskan Komentar